Sabtu, 21 Mei 2011

Yuk Nego Gaji

Meminta kenaikan gaji menjadi ketakutan tersendiri bagi karyawan. Banyak pekerja yang bingung, kapan sebaiknya mereka harus bertanya tentang kenaikan gaji. Selain itu, mereka tidak tahu harus menanggapi seperti apa ketika permintaan mereka ditolak.

Ketika ingin negosiasi gaji, kunci utama adalah persiapan. Ikuti tips dari eHow berikut ini agar atasan menyetujui permintaan Anda.

#1 Meneliti Rentang Gaji di Perusahaan Lain.
Sebelum mengajukan permintaan kenaikan gaji, cari tahu terlebih dahulu gaji yang diterima oleh karyawan lain di perusahaan yang berbeda dengan posisi yang sama. Anda mungkin bisa mencari referensi dari teman Anda. Jangan ragu untuk berdiskusi mengenai gaji dan tunjangan Anda kepada rekan kantor.

#2 Tuliskan Pencapaian Anda untuk Perusahaan.
Persiapkan semua pencapaian Anda dalam beberapa bulan terakhir. Tuliskan dan siapkan untuk ditunjukkan kepada atasan. Selain itu, Anda juga harus menyusun ide-ide yang akan diterapkan untuk pengembangan perusahaan.

#3 Jangan Melangkahi Atasan
.
Jangan sekali-kali Anda membahas masalah gaji ke bagian personalia atau HRD, karena Anda mendahului atasan. Prosedur yang tepat adalah bicarakan dan presentasikan dahulu kepada atasan. Setelah itu, atasan yang akan menyetujui dan diteruskan kepada bagian HRD.

#4 Presentasi.
Setelah mendapatkan jadwal untuk bisa bertemu atasan, presentasikan semua pencapaian Anda yang telah Anda siapkan. Terangkan dengan percaya diri dan tampilkan bahwa Anda layak mendapat kenaikan gaji.

#5 Bersiaplah Pada Kemungkinan Terburuk.
Ketika atasan menolak memberikan gaji tambahan, maka hindari bersikap berlebihan. Aturlah emosi Anda.  Jangan khawatir, Anda masih bisa meminta kenaikan gaji dikemudian hari, setelah Anda mendapatkan prestasi-prestasi lainnya. Terus berjuanglah dan tingkatkan performa kerja.

Jumat, 20 Mei 2011

Kreatif Dong


"Change your thoughts, and you change your world" - Norman Vincent Peale
Dalam kondisi seperti saat ini, dimana dunia sedang mengalami resesi global. Ada satu hal penting yang seharusnya dapat kita lakukan untuk dapat bertahan maupun keluar dari keadaan krisis seperti ini yakni berpikirlah lebih KREATIF. Celakanya, banyak orang yang kemudian menolaknya dengan berkata "Pak, saya khan orangnya tidak kreatif!". 

Atau, pernah pula seorang pengusaha sepatu yang diekspor, berkeluh kesah panjang soal bisnisnya yang turun baru-baru ini "Pak, sudah upaya segala macam cara. Rasa - rasanya pikiran saya sudah deadlock, saya tidak punya ide lagi! Kita udah terlalu lama main di bisnis ini!"

Kita lihat, begitu banyaknya respon negatif yang lebih mudah terlontarnya dibandingkan respon yang positif dan membangun. Sebenarnya kuncinya adalah bukanlah masalah bisa atau tidak bisa, tetapi apakah kita MAU untuk berpikir lebih kreatif dalam situasi sekarang. Dalam artikel berikut ini, saya akan membagikan kepada pembaca sekalian apa yang menjadi tips yang tentunya sudah saya aplikasikan untuk menjadi pribadi yang lebih kreatif dalam berbisnis.

Intinya, ada 4 langkah inspiratif yang bisa membuat Anda lebih kreatif berbisnis. Mari siapkan pikiran Anda, terima dan aplikasikan semaksimal mungkin, percayalah dengan proses berjalannya waktu, Anda bisa membangun otot-otot kreatif Anda! Inilah langkah - langkahnya...
Pertama: Sedikanlah waktu untuk berpikir!
Konon, Thomas Alva Edison yang begitu terkenal dengan berbagai paten temuannya, sering meluangkan waktu untuk merenung dan berpikir. Begitu pula, guru leadership terkenal, John Maxwell yang menulis puluhan buku, selalu memberi waktu luang berpikir sehingga tetap punya ide-ide yang `fresh'. Bagaimana dengan Anda? Begitu banyak orang yang saya temukan dan berbincang - bincang dengan saya yang selalu mengatakan begitu sibuknya dia sehingga sampai - sampai tidak memiliki waktu sedikit pun untuk berpikir.

Janganlah anggap bahwa waktu untuk jeda berpikir ini adalah waktu yang tidak produktif. Hal ini berbeda dengan malas. Proses jeda ini seringkali menjadi tahapan inkubasi untuk mendapatkan ide cemerlang. Bahkan, beberapa ide ilmiah Albert Einstein diperoleh saat ia bermain biola dan bercukur. Jadi, untuk menjadi seorang yang dapat berpikir secara kreatif, mulailah dengan kemauan meluangkan waktu jeda di antara sela-sela pekerjaan Anda. Bisa dimulai dengan 5 menit, 10 menit, 30 menit. Lama - kelamaan jika Anda mulai terbiasa, pastilah Anda akan menikmati proses berpikir ini.

Mungkin pada awalnya akan terasa berat dan membosankan, tetapi ingat kembali tujuan Anda kalau mau menjadi lebih kreatif maka harus meluangkan waktu Anda, tidak bisa tidak! Percayalah, dengan meluangkan waktu semacam ini, berbagai ide yang tidak terpikirkan, cara yang tidak terbayangkan, bisa tiba-tiba muncul untuk mengatasi masalah yang ada.

Kedua: Temukan tempat untuk berpikir kreatif!
Diketahui, Walt Disney yang terkenal dengan Disneyland-nya mempunayi 3 kursi yang sudah dibiasakan menjadi tempat latihan berpikir kreatifnya. Begitupun, dalam langkah kedua ini Anda bisa berusaha temukan tempat yang bisa dipakai untuk berpikir kreatif. Ini kembali lagi kepada kesukaan maupun karakter Anda. Mungkin saja Anda lebih suka berpikir sendiri di ruang pribadi yang tenang, atau mungkin sambil mendengarkan musik, atau perlu pergi ke suatu tempat misalnya pergi ke gunung, pantai untuk dapat berpikir secara kreatif, atau mungkin juga dengan pergi rekreasi maupun jalan - jalan ke pusat perbelanjaan untuk menjadikan Anda lebih kreatif.

Intinya adalah pertama - tama dimulai dengan menyediakan terlebih dahulu waktunya, kemudian carilah tempat dimana bisa membuat Anda secara bebas berpikir secara kreatif. Begitu banyak tempat yang bisa menjadikan Anda penuh dengan ide - ide. Atau jika Anda diberkati dengan memiliki uang lebih, Anda dapat pula pergi ke luar kota ataupun ke luar negri untuk mendapatkan ide - ide sehingga menjadi lebih kreatif.

Dengan Anda merenung, memperhatikan apa yang dilakukan orang lain, mengamati suatu peristiwa, pastilah Anda akan menjadi lebih kreatif. Bahkan sekarang dengan kemajuan teknologi informasi, ide - ide untuk berpikir secara kretif pun dapat ditemukan melalui Internet.

Ketiga, Paksakan diri untuk berpikir!
Dua langkah di atas saja sebenarnya sudah dapat menjadikan Anda kreatif! Tetapi selalu ada satu kata yang membuat kita belum menjadi kreatif, yaitu M-A-L-A-S. Ayo, paksakan diri Anda keluar dari rasa malas! Paksa diri Anda untuk menyediakan waktu dan tempat untuk berpikir. Awalnya mungkin terasa berat, tetapi terus dan teruslah mencoba dan berusaha. Biasakan terus diri Anda dengan memaksakan sehingga dalam diri Anda tercipta suatu pola untuk disiplin berpikir kreatif!

Saya pun jadi teringat oleh salah satu pembicara dunia yang mengarang buku 7 Habits, Stephen R. Covey yang pernah mengatakan, "We are limited but we can push back the borders of our limitations". Betul sekali kalau kita adalah orang yang terbatas, tetapi jika kita memaksakan diri kita, maka kita akan bisa keluar dari batasan - batasan yang ada.

Keempat: Mintalah bantuan orang lain yang lebih kreatif untuk membantu!
Langkah terakhir, jika Anda tetap saja masih belum bisa berpikir kreatif, gunakanlah kemampuan Social Intelligence Anda. Mintalah bantuan kepada orang - orang, rekan, sahabat yang Anda nilai lebih kreatif, sehingga Anda akan mendapatkan ide - ide segar dan menarik darinya!

Intinya adalah setiap orang Tuhan ciptakan dengan penuh kreatifitas! Pertanyaannya apakah kita mau untuk menyediakan waktu untuk berpikir - menyediakan tempat untuk berpikir - memaksakan diri untuk berpikir - serta meminta bantuan kepada orang lain yang lebih kreatif untuk membantu. Mulailah dahulu dari diri Anda sendiri! Mulai hari ini jadikanlah diri Anda menjadi pribadi yang penuh dengan kreatifitas, sehingga dari Anda akan muncul banyak ide - ide yang akan berguna baik untuk pekerjaan, usaha, bisnis, keluarga, persahabatan bahkan berguna untuk membantu bangsa Indonesia ini bebas dari krisis!

Selamat berpikir kreatif dan menjadi pemikir kreatif!

Memotivasi Diri

Apa jadinya jika seseorang kehilangan motivasi diri,  sudah pasti akan berimbas pada kinerja kesehariannya dan ujung-ujungnya adalah datang yang namanya sifat malas. Semua orang pasti akan mengalami hal demikian, namun yang terpenting di sini adalah bagaimana cara kita meminimalisir agat motivasi diri terjaga dengan baik dan prima, khusus dalam hal ini adalah motivasi bisnis internet.

Motivasi bisnis internet bisa menurun lantaran penghasilan yang diidam-idamkan tak kunjung datang, penghasilan masih belum sesuai harapan atau memang kondisi dalam keadaan tidak mood. Semua itu memang wajar terjadi, tapi jika hal itu dibiarkan berlarut-larut, tentu saja ini juga berbahaya. Maka solusi terbaik untuk meningkatkan motivasi diri agar tetap bersemangat dadalah dengan:

#1 Perbanyak Membaca
Membaca bisa menjadi solusi bagi Anda yang kehilangan motivasi. Bacalah buku-buku, artikel, ebook dan sumber-sumber terpercaya yang sekiranya bisa meningkatkan gairah Anda datang kembali.

Dengan membaca akan membuka cakrwala Anda kembali, yang tadinya begitu sempit menjadi terang. Dengan membaca pula seolah-olah Anda telah pergi jauh meninggalkan tempat duduk Anda membaca, resapilah, renungilah setiap kata dan kalimat yang ada dan perbandingkan dengan kondisi Anda, maka saya yakin Anda akan menemukan diri Anda kembali.

#2 Istirahatlah
Bisa jadi motivasi bisnis Anda menurun lantaran Anda terlalu sibuk dengan pekerjaan, memang benar tujuan Anda baik ingin menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin, tapi jika itu sudah berlebihan dan kegiatan yang anda lakukan sudah tidak produktif lagi sehingga motivasi yang tadinya membara ikut-ikutan menurun, tentu saja ini menjadi tidak efektif.

Maka solusi terbaik adalah dengan istirahat, lupakan pekerjaan Anda, keluar sejenak, ambil liburan dengan keluarga, buanglah semua beban yang ada dalam fikiran, rileks dan rasakanlah, maka Anda akan keluar dari hiruk pikuk yang memperbudak Anda dan pada akhirnya stamina dan motivasi Anda kembali prima.

#3 Bergaullah dengan Orang-orang Suskes dan Penuh Motivasi
Tak dapat dipungkiri, siapa yang ingin menjadi orang yang sukses di suatu bidang, maka berkumpul dengan orang-orang yang telah suskes di bidang tersebut bisa menjadi jawaban. Orang-orang sukses seperti ini biasanya membawa aura yang  bisa memotivasi orang lain, membuat nilai lebih dibanding yang lain, menjadi cahaya di tengah-tengah kegelapan dan menjadi inspirator dalam setiap sepak terjang yang dilakukannya.

Dengan berkumpul dengan orang-orang demikian, akan membuat Anda kecipratan wibawa mereka, sekaligus menjadi cermin bagi diri Anda mengapa sama-sama makan nasi tapi kualitas individu bisa berbeda.

#4 Berfikirlah Positif
Apa yang Anda fikirkan itulah yang akan terjadi. Sangat disayangkan energi banyak terkuras hanya untuk mengurusi hal-hal yang tidak baik bagi Anda, padahal kita tinggal memilih, jika berfikir negatif outputnya adalah…..Dan jika berfikir positif maka outputnya adalah….

Oleh karena itu, daripada memikirkan hal-hal yang negatif, lebih baik memikirkan hal-hal yang positif. Karena itu akan menjadi energi bagi kita untuk terus termotivasi.

#5 Ingat Tujuan
Orang yang motivasinya rendah biasanya tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, mereka bertindak tanpa memiliki arah dan tujuan yang jelas, banyak waktu luang yang terbuang sia-sia.
Oleh sebab itu, saat Anda menekuni bisnis internet, Anda harus mempunyai tujuan dan sistem bisnis yang jelas.

Mengapa harus membuat website, mengapa harus rajin menulis, apa yang dilakukan dengan penghasilan dari bisnis internet, mengapa harus melakukan ini, ini, dan ini, semua itu harus ada arah yang jelas. Dengan memiliki tujuan yang jelas, akan meminimalisir rasa malas dan menumbuhkan motivasi- motivasi untuk mewujudkan tujuan-tujuan Anda.

Itulah beberapa tips dari saya agar motivasi bisnis internet Anda tetap prima.

Improve Your Carier

Kompetisi dalam dunia kerja terus terjadi oleh karena itu kita harus mampu bersaing dengan yang lain agar dapat terus meningkat dalam karir. Seringkali dalam training yang saya adakan saya berkata kepada para peserta bahwa cara terbaik untuk berkompetisi dalam dunia kerja adalah dengan cara meningkatkan kompetensi yang dapat membuat kita terus lebih unggul dari yang lainnya.

Tentunya kita tidak cukup cuma ahli di bidang kita melainkan kita juga perlu menguasai keahlian-keahlian lainnya yang dapat mendukung keahlian utama yang sudah dimiliki. Berikut ini ada 4 macam keahlian yang perlu dikuasai untuk mendatangkan peningkatan pada karir kita:

# 1. Selling Skill
Kemampuan menjual bukan hanya perlu dikuasai oleh para sales tapi juga oleh setiap orang yang ingin meningkat dalam karir. Karena dalam bidang pekerjaan apapun seseorang harus mampu menjual apakah itu suatu produk atau jasa, maupun “menjual diri” sendiri yang mungkin bisa diartikan seperti seorang karyawan menjual kinerjanya pada suatu perusahaan, seorang guru menjual pengetahuan, seorang designer menjual keahliannya. Intinya setiap kita bertanggung jawab penuh untuk menciptakan nilai tambah pribadi yang membuat nilai jual kita semakin tinggi sehingga karir dapat terus melejit.

# 2. Interpersonal Skill
Keahlian membangun hubungan dan berinteraksi dengan orang lain sangat dibutuhkan untuk meningkat dalam karir. Karena dalam dunia kerja hampir tiga perempat waktu yang kita habiskan berhubungan dengan orang banyak seperti customer, supplier, atasan, rekan kerja, bawahan. Makanya tidak heran sejumlah studi ilmiah menyimpulkan 85% kunci sukses ditentukan bukan dari keahlian atau keterampilan teknis saja melainkan kemahiran dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Kemampuan membina hubungan akan sangat menolong kita dalam hal kerjasama tim, membangun networking, memenangkan hati pelanggan, dan disukai banyak orang.

# 3. Communication Skill
Kemampuan berkomunikasi adalah suatu alat yang penting untuk meraih kemajuan dalam karir. Fakta menunjukkan bahwa kemampuan anda mencapai tujuan sangat dipengaruhi pada kemampuan anda dalam berkomunikasi dan mempengaruhi orang lain. Keahlian ini dapat terus dilatih dan dikembangkan agar kita dapat menjadi komunikator yang handal sehingga kita dapat dengan efektif menyampaikan ide-ide, mempresentasikan suatu proyek, mengkomunikasikan manfaat suatu produk atau jasa yang akan menentukan suatu penjualan.

# 4. Learning Skill
Kita hidup di era informasi yang mana suatu informasi dapat diakses secara mudah dengan berbagai sarana. Beberapa informasi tertentu dapat menjadi sangat berharga yang mendatangkan berbagai keuntungan. Hal inilah yang harusnya mendorong kita untuk terus menyerap sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan sesuai bidang kita melalui seminar, koran, internet, membaca buku bahkan belajar dari para praktisi dan ahlinya.

Proses ini menuntut pembelajaran yang efektif agar kita tidak ketinggalan dengan yang lain, selain itu juga kita harus mampu menyeleksi dan mengolah informasi yang kita serap agar selalu relevan dengan diri kita. Peningkatan pengetahuan selalu diikuti dengan peningkatan kompetensi lalu diikuti dengan peningkatan karir.

Apabila anda serius ingin meningkatkan karir, maka mulai investasikan waktu anda untuk mempelajari keahlian-keahlian tersebut dan anda akan lihat hasilnya yang mendatangkan banyak manfaat.

Selasa, 17 Mei 2011

Jago Negosiasi

Salah satu hal yang penting dalam bisnis adalah negosiasi. Bagaimana kita mendapatkan apa yang kita mau dengan seminim mungkin pengorbanan yang kita berikan. Negosiasi bisa juga diartikan tawar menawar. Ini ada sedikit tips yang selalu saya pergunakan saat negosiasi. Hasilnya, alhamdulillah saya mampu mendapatkan banyak hal yang saya mau. Tapi karena prinsip saya selalu win win solution jadi saya gak terlalu menekan angka pengeluaran. Bagi saya yang penting dua-duanya senang

Dan saya harap setelah anda mengetahui jurus negosiasi ini, saya harap anda melakukannya untuk hal-hal yang baik. Saya akan sangat sedih jika kemampuan ini anda pergunakan untuk menipu orang lain.

Inilah jurus2 negosiasi ala Lutvi Avandi. Saya mendapatkannya dari berbagai buku dan seminar marketing. Dan ini beberapa yang sering saya pakai:

1. You are my King
Ada satu kebutuhan pokok semua orang. Mereka ingin dihormati, dan diorangkan. Mereka haus akan pujian dan kebanggaan. Semiskin apapun mereka, mereka ingin diperlakukan bak raja. Maka, jurus pertama untuk negosiasi dengan siapapun bahkan dengan tukang becak adalah, You are my King.

Hormati dia, berikan respek anda secara tulus padanya. Kata-kata seperti, “Wah, anda rajin sekali ya?” atau “Halo Bos, makin sukses aja nih kelihatannya”. Atau bisa juga,”Wah bapak ini layak jadi suami teladan, walaupun narik becak, tapi tetap semangat”. Tapi ingat, anda harus lihat situasi. Cari yang benar2 keunggulannya. Jangan kelemahannya yang kemudian dibalik jadi pujian, itu justru akan dianggap penghinaan.

Misalnya ada orang bajunya kotor, jangan dibilang, “Wah baju anda keren sekali, habis nyuci dimana tuh?” Jadi tetap lihat situasi dan kondisi. Cari apapun yang bisa dipuji.

2. You are the Winner
Aturan kedua, semua orang selalu ingin menang. Bahkan seorang pemenangpun masih mencari orang2 yang lebih hebat darinya untuk dikalahkan. Semua orang ingin jadi nomor 1.

Maka, saat anda bernegosiasi dengan seseorang jadikan diri anda selalu kalah. Dahulukan kepentingannya. Saat anda sudah memberi rasa menang sendirinya makanan lezat hingga dia kekenyangan, tak perlu basa basi anda sudah mendapatkan apa yang anda inginkan bahkan tanpa anda minta..

3. Hindari Perdebatan
Ini ada kaitan dengan hukum sebelumnya. Jangan pernah berdebat walaupun anda benar-benar dalam posisi benar. Apalagi jika sama-sama meragukan.. hehehe.. Perdebatan hanya akan menambah musuh walaupun anda berhasil memenangkan pertempuran. Ingat hukum kedua, semua orang ingin “merasa” menang.

Biasanya saya menghindari perdebatan dengan mengatakan ini,”Mungkin anda benar walaupun menurut saya ini dan itu. ya, mungkin saya yang salah”.

Anehnya biasanya setelah ngomong gitu mereka malah setuju pendapat saya. hehehe.. Cuma seringkali mereka masih tetap teguh pada pendapatnya, tapi setidaknya perdebatan bisa dihentikan

4. Beri hadiah
Woww.. ini adalah senjata mematikan saat negosiasi. Hanya orang2 yang punya pendirian kokoh yang mampu menahan serangan ini. Tapi biasanya ketika 3 langkah diatas sudah anda jalankan, akan sangat sulit bagi mereka untuk menolak hadiah..



Senin, 16 Mei 2011

Biar Karyawan Loyal

Jesper Kunde menyatakan bahwa no customer commitment without employee commitment. Artinya, membangun loyalitas karyawan is a must. Karyawan merupakan ujung tombak yang akan ’mengibarkan’ bendera perusahaan. Lalu, bagaimana caranya membangun loyalitas karyawan? Inilah kiat-kiatnya!. Coba amati karyawan anda dengan menggunakan kategorisasi sebagaimana dijelaskan oleh Bilson Simamora berikut:

#1. Karyawan yang berkomitmen: Karyawan puas dan bangga dengan perusahaan. Secara aktif, karyawan akan menceriterakan kebaikan-kebaikan perusahaan kepada orang lain;

#2. Karyawan yang menyukai perusahaan: Mereka merasakan hubungan yang akrab dengan perusahaan. Mereka akan membela nama baik perusahaan;

#3. Karyawan yang puas terhadap perusahaan: Namun kepuasan itu cenderung karena faktor rasional. Mereka mengadakan evaluasi terhadap pekerjaan mereka sekarang dan peluang di tempat lain. Seandainya ada kesempatan yang lebih memuaskan di perusahaan lain, maka karyawan akan pindah;

#4. Karyawan yang bekerja biasa: Karyawan bekerja seperti menjalani rutinitas. Mereka puas atau minimal tidak dikecewakan oleh perusahaan. Mereka jarang mengevaluasi kesempatan ditempat lain, namun bila tahu ada kesempatan yang sama atau lebih memuaskan mereka mudah memutuskan akan pindah;

#4. Karyawan yang merasa tidak memiliki: Mereka mudah saja pindah kerja dengan berbagai alasan, bahkan yang sepele. Kalupun tetap bertahan mereka merasa tidak menjadi bagian dari perusahaan. Disisi lain mereka sebenarnya tidak membenci perusahaan;

#5. Karyawan yang tidak suka tapi pasif: Secara rasional sebenarnya tidak ada masalah, akan tetapi ada faktor lain yang bersifat emosional tidak sesuai. Mereka mengekspresikan ketidaksukaan itu secara pasif. Tetapi mereka belum berpikir pindah kerja;

#6. Karyawan yang tidak puas: Karyawan tidak sekedar bersifat pasif seperti kategori sebelumnya. Mereka sudah hendak keluar dari perusahaan, tetapi karena mereasa rugi (biaya keluar lebih besar) maka mereka bertahan;

#7. Karyawan yang antipati: Karyawan menyatakan kebenciannya secara terus terang. Mereka antipati terhadap manajemen dan program-programnya. Namun mereka belum melakukan tindakan destruktif terhadap perusahaan. Tentu mereka segera akan keluar kalau ada kesempatan kerja di tempat lain, walaupun gajinya lebih kecil;

#8. Karyawan yang memusuhi: Karyawan tidak lagi sekedar benci, tetapi memusuhi perusahaan. Tidak segan-segan mereka akan melakukan sabotase, membocorkan rahasia kepada pesaing, membawa perusahaan kepengadilan, menyebarkan issue yang merugikan perusahaan, dan sebagainya. Sebagai bentuk lain permusuhan, mereka keluar dari perusahaan walaupun tidak ada kesempatan di tempat lain.

Sudah dapat dijawabkah? Bagaimana hasilnya? Apakah mayoritas ada pada kategori 1-2; kategori 3-4 ataukah malah justru berapa pada kategori  5-9? Agar sebagian besar karyawan dari suatu perusahaan dapat berada pada kategori 1-2 maka terdapat tiga faktor yang harus diperhatikan oleh suatu perusahaan sehingga karyawan-karyawan mereka dapat menjadi loyal kepada perusahaan, yaitu:

(1) Faktor rasional: Menyangkut hal-hal yang bisa dijelaskan secara logis, seperti: gaji, bonus, jenjang karir  dan fasilitas-fasilitas yang diberikan perusahaan kepada karyawan;

(2) Faktor emosional: Menyangkut perasaan atau ekspresi diri seperti: pekerjaan yang menantang, lingkungan kerja yang mendukung, perasaan aman karena perusahaan merupakan tempat bekerja dalam jangka panjang, pemimipin yang berkharisma, pekerjaan yang membanggakan, penghargaan-penghargaan yang diberikan perusahaan dan budaya kerja;

(3) Faktor spiritual: Menyangkut kebutuhan rohani, seperti: kepuasan rohani, pekerjaan yang bersifat rohani, sikap perusahaan terhadap misi-misi rohani, pemimpin yang religius dan kesempatan untuk melakukan kegiatan rohani. Silahkan perusahaan anda ‘menghadiahkan’ faktor-faktor tersebut di atas kepada karyawan. Kiat-kiat ini sudah terbukti ampuh membangun loyalitas karyawan di manca negara.

Karyawan-karyawan di Negeri Sakura merupakan contoh yang baik untuk mencermati bagaimana loyalitas karyawan akan mampu menjadi senjata pamungkas untuk memenangkan sengitnya ‘belantara’ bisnis. Bagi mereka (baca: sebagaian besar karyawan di Negara Jepang), bekerja merupakan pengabdian sepanjang titian hidup. Dan sebaliknnya, perusahaan tempat dimana karyawan tersebut bekerja akan menjamin kesejahteraaan mereka dan keluarganya hingga napasnya meregang. Apa hasil yang dipetik? Produktivitas yang sangat tinggi!, bukan?.

Pekerja di Negara Matahari Terbit sangat terkenal dengan -istilah kerennya- workaholich. Semua itu menjadikan karyawan-karyawan di Jepang memiliki produktivitas yang paling tinggi di kolong langit ini. Sehingga tidak mengherankan bila merek-merek dari Negara Jepang menguasai beraneka ragam pasar di manca negara dengan keunggulan bersaing yang sulit untuk dapat ditandingi oleh negara-negara lain dan dibelahan bumi manapun. …Yamaha, Mitshubisi, Toyota, Suzuki, Sony…Minolta, Kawasaki, Sanyo, Casio, Toshiba…Semuanya sungguh ternama, bukan?

Minggu, 15 Mei 2011

Menjadi Karyawan Produktif

Pernahkah bertanya kepada diri sendiri: “Sudah produktifkah saya bekerja?” atau “Seberapa produktifkah saya sebenarnya? .

Namun, ada satu hal yang pasti : kita semua bisa menjadi lebih produktif dari sebelumnya. Artinya, output yang dihasilkan akan lebih tinggi dari input. Produktifitas sendiri merupakan ukuran sebuah output yang dihasilkan dari suatu proses atau aktifitas, per satuan unit atau input. Ada 5 teknik yang bisa digunakan untuk membantu meningkatkan produktifitas. berikut adalah tekniknya :

Teknik #1: Mengelola email, pesan,dan voicemail.
Terus menerus menerima email, pesan, telepon,  voicemail atau sejenisnya, akan tampak sebagai rentetan aktifitas yang tak pernah berakhir, ini tentu saja sangat mengurangi produktifitas kerja. Disarankan, hanya menggunakan waktu maksimal 4 (empat) kali saja sehari untuk mendengarkan pesan, email dan sejenisnya : yakni pagi hari saat masuk kerja, sebelum makan siang, sesudah makan siang dan sebelum menyelesaikan pekerjaan untuk hari itu. Dengan cara ini, sudah mengurangi waktu yang tidak produktif, dan bisa dialokasikan untuk hal lain yang lebih penting.

Teknik #2: Menggunakan waktu yang paling produktif untuk hal yang penting.
Ini mirip seperti pareto waktu. Gunakan 20% waktu untuk mengerjakan tugas yang paling penting dan prioritas. Maka hal tersebut sama dengan telah mengerjakan 80% dari total pekerjaan.

Teknik #3: Rencanakan pekerjaan dengan matang.
Ada tips sederhana untuk meningkatkan produktifitas kerja. Ketika hendak pulang kerja, tulislah 5 hal penting (diurutkan prioritas) yang akan dikerjakan esok hari. Keesokan harinya, kerjakan apa yang tulis, lalu lakukan evaluasi pada sore harinya jika ada yang belum diselesaikan. Sebelum meninggalkan pekerjaan, tulis kembali 5 hal penting yang harus dilakukan hari berikutnya. Ini merupakan aplikasi PDCA harian, yang sangat manjur dalam meningkatkan produktifitas kerja.

Teknik #4: Hindari penundaan.
Menunda sesuatu yang memang harus segera dilakukan hanya menyusahkan diri sendiri di kemudian hari. Karena itu, segera kerjakan apa yang memang sudah seharusnya pada hari itu.

Teknik #5: Ubah pola pikir dan ‘mindset’.
Seandainya dari lingkungan, rekan kerja, atasan maupun fasilitas bekerja sudah sangat mendukung, namun tetap belum ada perubahan berarti dalam produktifitas kerja, berarti ada masalah di faktor internal. Segera lakukan evaluasi dan introspeksi, seperti sudahkan kita benar-benar dan bersungguh-sungguh melakukan perubahan agar lebih produktif ? Ketiadaan niat, kesungguhan, motivasi, maupun semangat kerja tentu mengganggu produktifitas kerja, karena semua diatas adalah “inti” dari produktifitas kerja yang sesungguhnya.